Latar Belakang
KBRI Phnom Penh merintis pembentukan Pusat Budaya Indonesia (PUSBUDI) yang diresmikan pada tanggal 18 Desember 2007 di Chaktomouk Theatre, Phnom Penh. Acara peresmian Pusbudi yang dibuka secara resmi oleh H.E. Veng Sereyvuth, Menteri Kebudayaan dan Seni Kerajaan Kamboja tersebut dihadiri oleh kalangan diplomatik, kalangan pejabat tinggi Kamboja serta masyarakat Indonesia, Kamboja dan asing yang berjumlah sekitar 600 orang.
Pusbudi merupakan pusat bagi transfer ilmu pengetahuan khususnya antara masyarakat Indonesia dan Kamboja di bidang kebudayaan. Dalam menjalankan program kegiatannya, Pusbudi bekerjasama dengan berbagai lembaga serta individu yang terkait di Kamboja. Kegiatan yang dilakukan oleh Pusbudi bertujuan untuk mempromosikan persahabatan dan pemahaman antara masyarakat kedua negara melalui kegiatan seni, sosial dan budaya, yang meliputi antara lain pengajaran Bahasa Indonesia untuk orang Kamboja dan asing, Pelatihan Tari dan Musik, Putar Film Indonesia, ITASA Room di Angkor Wat, Sarasehan dan Seminar, Perpustakaan, serta Pertunjukan Budaya.
Pengajaran Bahasa Indonesia
Program pengajaran Bahasa Indonesia dibuka secara resmi pada tanggal 2 November 2007. Program ini merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan sebelum peresmian Pusbudi Nusantara di KBRI Phnom Penh. Program pengajaran bahasa Indonesia didukung penuh oleh KBRI dengan melibatkan tenaga pengajar Bahasa Indonesia orang Indonesia maupun Kamboja (alumni perguruan tinggi Indonesia) yang tergabung dalam organisasi Language Exchange Cambodia (LEC). Sampai dengan saat ini tercatat sebanyak 300 siswa dengan 80 orang siswa aktif. Jadwal kelas adalah hari Senin s/d Jumat, dan dibagi dalam 2 kelas yaitu kelas pagi pukul 06.30 – 08.00 dan kelas sore pukul 17.30 – 19.00. Pengajaran Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi sosial yang efektif untuk membangun hubungan konstruktif antar warga kedua negara, disamping juga dimaksudkan untuk mempromosikan sistim pendidikan di Indonesia dengan harapan bahwa masyarakat Kamboja tertarik untuk belajar di Indonesia.
Pelatihan Tari dan Musik
Pusbudi Nusantara secara rutin memberikan pelatihan tari dan musik, sebagai salah satu upaya KBRI untuk meningkatkan citra dan mempromosikan/ memperkenalkan keanekaragaman seni dan budaya yang ada di Indonesia kepada masyarakat Kamboja maupun masyarakat asing di Kamboja.
Putar Film Indonesia
Di samping kelas rutin, PUSBUDI Nusantara juga menyelenggarakan pemutaran film setiap akhir bulan dan dihadiri rata-rata sekitar 80 orang yang terdiri dari murid bahasa Indonesia, masyarakat Indonesia dan pemerhati film Indonesia serta masyarakat asing. Pada acara tersebut, para murid bahasa Indonesia diminta mewawancarai yang hadir guna mempraktekan bahasa Indonesia dan disuguhi masakan khas Indonesia. Selama pertunjukan film mereka diminta untuk menulis kata-kata yang mereka ketahui.
ITASA Room di Angkor Wat
Situs bersejarah Angkor, yang merupakan peninggalan budaya tidak ternilai dari Pemerintah Kerajaan Kamboja telah didaftarkan sebagai peninggalan dunia pada tanggal 14 Desember 1992, pada saat pertemuan the World Heritage Committee yang diselenggarakan di Santa Fe, USA. Karena dalam kondisi rusak berat, maka Angkor diumumkan sebagai peninggalan dunia yang kondisinya membahayakan.
Upaya internasional untuk melestarikan peninggalan tersebut sangat dibutuhkan. Intergovernmental Conference on the Safeguarding and Development of the Historic Site of Angkor diselenggarakan di Tokyo pada 12-13 Oktober 1993 atas inisiatif UNESCO untuk menjawab kebutuhan tersebut. Indonesia yang mempunyai pengalaman internasional dalam memugar candi Borobudur telah diundang untuk menghadiri pertemuan tersebut.
Untuk mewujudkan komitmennya, Indonesia telah membentuk tim dengan nama the Indonesian Technical Assistance for Safeguarding Angkor (ITASA). Proyek ITASA dimulai pada tanggal 22 Agustus 1994, yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan teknis para arkeolog dan teknisi Kamboja dalam upaya untuk melestarikan dan memugar Angkor. Untuk melatih mereka, tim teknik dan ahli Indonesia mengunjungi Angkor untuk melakukan penelitian masalah.
Studi teknis dilakukan oleh tim ahli konservasi dan pemugaran dari Directorate for the Protection and Development of Historical and Archaeological Heritage dan Borobudur Centre for Conservation and Study; keduanya adalah lembaga di bawah Directorate General for Culture, Department of Education and Culture. Untuk aspek geologi, penelitian dilakukan oleh para ahli dari Gadjah Mada University dan penelitian tentang aspek arkeologi dilakukan oleh para ahli dari Indonesia University dan National Research Center for Archeology.
Misi dilanjutkan dengan pelatihan bagi para arkeolog dan teknisi Kamboja di Indonesia serta pelatihan praktek lapangan di tiga gapura di Royal Palace Site of Angkor Thom, yaitu di the South Tower Gate I, the North Tower Gate I, dan the East Main Tower Gate I. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para teknisi di bidang konservasi dan pemugaran monumen tahap demi tahap sampai mereka dapat mengerjakannya dengan sempurna dan penuh tanggung jawab.
Lima orang arkeolog dan teknisi Kamboja yang berhasil dengan sukses menyelesaikan pelatihan yaitu Sdr. Nay Sophea, Sdr. Yim Sararith, Sdr. Saray Kim Huol, Sdr. Tann Sophal, dan Sdr. Lim Hak. Pemugaran the East Main Tower Gate yang merupakan pemugaran gapura terakhir telah sukses diselesaikan pada tanggal 8 April 2000, dan waktu tersebut merupakan akhir dari kehadiran Proyek Tim ITASA setelah enam tahun memberikan bantuan teknik.
Melalui misi tersebut, diharapkan di masa depan kerjasama kebudayaan antara Pemerintah Kerajaan Kamboja dan Republik Indonesia dapat diperkuat dan dikembangkan, utamanya dalam kerangka ASEAN seperti halnya Kerjasama Selatan-Selatan mengenai pemeliharaan arkeologi.
Sarasehan dan Seminar
Acara serasehan dan seminar diselenggarakan dalam rangka untuk memfasilitasi para peserta pembelajaran Bahasa Indonesia agar mengenal lebih jauh tentang kebudayaan Indonesia sekaligus membangun citra yang baik mengenai Indonesia, sehingga dengan demikian dapat tercipta hubungan yang baik dan erat antara Indonesia dan Kamboja.
Perpustakaan
KBRI Phnom Penh kini memiliki perpustakaan yang dimaksudkan untuk menunjang program pengajaran bahasa. Perpustakaan tersebut telah dimanfaatkan sejak awal tahun 2008 yang dilengkapi dengan bermacam buku hasil pembelian maupun sumbangan dari beberapa penerbit buku di Indonesia.
Pertunjukan Budaya
Setiap tahun KBRI Phnom Penh senantiasa menyelenggarakan pagelaran budaya Indonesia, yang bertujuan antara lain untuk mempererat hubungan Indonesia dan Kamboja serta diharapkan dapat lebih mempromosikan kebudayaan Indonesia pada dunia. Kegiatan pertunjukan budaya, berupa pertukaran budaya, pertunjukan budaya bersama dan pertunjukan budaya dalam acara peringatan HUT Proklamasi RI.